Muhammad Febriyanor
Dikenal sebagai "Muhammad Febriyanor"
Teknologi Tradisional
Profil
Perjalanan artistik Muhammad Febriyanor yang akrab disapa Ebing berakar kuat pada denyut musik tradisional Nusantara. Sejak kecil, interaksinya yang intens dengan instrumen gamelan telah membentuk
kepekaan pendengaran, pemahaman artikulasi wujud bunyi, serta intuisi estetik yang mendalam terhadap ruang akustik. Kesadaran intuitif tersebut kemudian ditempa secara metodologis melalui jalur akademis. Ebing menyelesaikan studi Sarjana (S1) di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sebuah fase yang memperkuat landasan teori dan praktik keseniannya. Hasrat untuk terus menggali kemungkinan kemungkinan baru dalam ranah penciptaan membawanya melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dalam ranah kekaryaan saat ini, Ebing mengarahkan fokusnya pada wilayah seni musik eksperimental dan seni bunyi (sound art). Berperan sebagai seniman bunyi sekaligus sound builder, ia berfokus pada pencarian timbre unik, perekayasaan material sonic, serta eksplorasi fenomena akustik yang mendobrak batasan struktur musik konvensional. bagi Ebing, bunyi bukan sekadar medium pertunjukan, melainkan objek kajian yang terus bertransformasi. Sebagai wadah artikulasi gagasan dan eksperimentasi kreasinya, Ebing mendirikan kolektif bernama Tala Gumba. Melalui Tala Gumba, ia memadukan memori kolektif tradisi gamelan dengan eksperimentasi bunyi kontemporer menciptakan lanskap suara baru yang terus bertumbuh dan dinamis.
kepekaan pendengaran, pemahaman artikulasi wujud bunyi, serta intuisi estetik yang mendalam terhadap ruang akustik. Kesadaran intuitif tersebut kemudian ditempa secara metodologis melalui jalur akademis. Ebing menyelesaikan studi Sarjana (S1) di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sebuah fase yang memperkuat landasan teori dan praktik keseniannya. Hasrat untuk terus menggali kemungkinan kemungkinan baru dalam ranah penciptaan membawanya melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Dalam ranah kekaryaan saat ini, Ebing mengarahkan fokusnya pada wilayah seni musik eksperimental dan seni bunyi (sound art). Berperan sebagai seniman bunyi sekaligus sound builder, ia berfokus pada pencarian timbre unik, perekayasaan material sonic, serta eksplorasi fenomena akustik yang mendobrak batasan struktur musik konvensional. bagi Ebing, bunyi bukan sekadar medium pertunjukan, melainkan objek kajian yang terus bertransformasi. Sebagai wadah artikulasi gagasan dan eksperimentasi kreasinya, Ebing mendirikan kolektif bernama Tala Gumba. Melalui Tala Gumba, ia memadukan memori kolektif tradisi gamelan dengan eksperimentasi bunyi kontemporer menciptakan lanskap suara baru yang terus bertumbuh dan dinamis.
Galeri Aktivitas